Home > Uncategorized > [Belajar dari India] Indian Pearl in Indonesian Mud

[Belajar dari India] Indian Pearl in Indonesian Mud

Banyak tanggapan miring tentang India, apalagi terhadap orang-orangnya. Di samping itu, banyak pula dari tanggapan tersebut yang tidak benar adanya. Saya cukup bosan untuk mengklarifikasinya. Tidak heran sih, karena banyak yang suka mengeneralisasikan sesuatu. Seperti orang asing memandang Indonesia sebagai negara terbelakang atau sarang teroris, padahal ibukotanya (Jakarta), “Jakarta is just another big city”. Kebetulan saya belum punya cukup pengalaman langsung untuk bisa saya tulis dan saya senang sekali karena saya menemukan tulisan yang indah mengenai India yang menurut saya objektif. Yuk mari disimak!
Perhatian: Tulisan ini saya copy dari note di akun Facebook Bapak Syaifoel Hardy dengan judul yang sama. Gambar pendukung saya ambil dari situs lain dengan menyertakan sumber (langsung linked ke sumber ketika klik gambar)

INDIAN PEARL IN INDONESIAN MUD

Kalau ingat sisi gelap India, saya tidak bakalan menginjakkan kaki di sana. Apalagi harus berulang kali berkunjung serta keliling ke sembilan negara bagian!

Lagi pula, sudut-sudut kota Mumbai yang kumuh, kereta api di seluruh bagian negara yang padat, maraknya penduduk miskin, joroknya lingkungan, layanan publik yang tidak higienis, ditambah kata teman-teman ‘aroma’ manusianya kayak bawang mereka menyebutnya; ah….mengapa harus repot-repot buang duit ke negeri Taj Mahal ini?

Sebagai seorang profesional, kita memang harus fair. Melihat sesuatu hendaknya jangan bias. Menempatkannya harus secara profesional. Sehingga, jika petugas imigrasi di Mumbai ramah dan sabar, salah satu kota terpadat keenam di dunia, harus saya hargai sebagai sebuah kelebihan.

Demikian pula dengan layanan Taxi yang murah sekali, dari Mumbai airport ke hotel yang berjarak sekitar 7 km dan hanya bayar tidak lebih dari Rp 12.500, harus pula saya acungi jempol. Apalagi nikmatnya makanan, murahnya harga buku, tingginya kualitas pendidikan, nilai wisata yang bertaraf internasional, hingga ramah tamah penghuninya dalam menjamu tamu, ah……. India! Jangan tanya!

Hujan deras yang mengguyur pusat bisnis terbesar di India ini tidak mengurangi niat saya untuk melihat lebih dekat apa yang ada di sana. Memang, seperti halnya kota-kota besar di dunia lainnya, Mumbai menawarkan glamour komersialismenya. Time is money.

Meski demikian, Mumbai tidak ‘kedonyan’!

Ketika saya beli satu emplek Panadol, saya membayar seperti yang tertulis di bungkus obatnya. Bukannya harga buatan pemilik toko seperti yang kita temui di negeri kita. Saat beli koran, berbahasa Inggris terkenal yang di negeri kita, harga The Jakarta Post Rp 6500, di sana, India Times hanya sekitar Rp 600. Itupun, 16 halaman! Ketika menengok the Gate of India, sebuah tempat wisata terpopuler, eh…..ternyata gratiiisss!!!

Orang miskin di Mumbai dan pemukiman kumuhnya nampak jelas dari langit sebelum mendarat. Saya heran, kok pemerintah India menginjikan? Padahal, di negeri kita, pasti sudah digeser. Sesudah dua hari di sana, baru saya mengerti, bahwa pemerintah generasi lanjutan Gandhi ini sangat menghargai hak hidup dan kepemilikan penduduknya. Bukan sebaliknya, menelantarkan atau mengebiri hak-hak mereka.

Pemahaman serupa saya ketahui sebagai alasan mengapa tidak banyak supermarket, mall atau hypermarket di kota yang berpenduduk lebih dari 20 jutya jiwa ini. Padahal, di Malang saja, di kecamatan-kecamatan kecil yang namanya supermarket berterbaran di mana-mana, membuat pedagang kecil dan pribumi harus gulung tikar.

India, negeri yang memproduksi film lebih dari 1000 per tahun ini, mungkin juga terkenal korupsi, tapi saya tidak melihat kesewenang-wenangannya terhadap rakyat kecil!

Di Chennai, ah…awalnya sebal sekali rasanya! Penduduknya begitu banyak dan luar biasa padat kotanya. Ketika masuk ke sebuah pertokoan besar di pusat kota, sales persons nya tidak tampil dan berdandan cantik dengan make up tebal kayak mall-mall kita. Saya juga dibuat heran! Barangkali demikian memang gaya hidup mereka yang harus kita mengerti.

Di tempat kerja saya dulu saat di Kuwait, teman-teman India, yang perempuan, banyak yang datang ke rumah sakit tanpa make up, deodoran atau parfum. Malahan bahu minyak kelapa sudah biasa. Saya amati mereka tidak silau dengan Dove atau Sunsilk yang harganya mahal.

Sabun lokal dan tradisional harganya murah sekali seperti Chandrika lebih mereka sukai. Satu buah sabun Dove bisa ditukar 4 buah Chandrika! Minyak rambut Vatika harganya kurang dari separuhnya Brisk. Meski demikian, lihatlah rambut mereka! Lebat dan kuat! Malah punya kita banyak yang rontok! Juri Ratu Kecantikan dunia sampai ‘bosan’, karena setiap kali finalis, setiap kali itu pula ada pesertanya dari India! Memang rambut bukan satu-satunya faktor. Tapi bayangkan ratu kecantikan tanpa rambut indah! Itulah India!

Tidak kurang dari 10 kg buku saya beli dari Chennai. Ibu kota negara bagian Tamil Nadu yang berada di bagian selatan India, sebelah timurnya Kerala. Toko buku besar Higginbothams namaya, terletak di pusat kota, sangat menawan. Harga buku-bukunya, bikin saya geleng-geleng kepala!

Practical English Usage, yang di Qatar seharga Riyal 110 atau sekitar Rp 275.000, ternyata di India hanya Rp 37.000. Di Indonesia, buku ini di bursa buku murah seharga Rp 47.000. Itupun, edisi Bahasa Indonesia! Tapi jangan tanya jika harus beli di Gramedia yang edisi Bahasa Inggris terbitan Oxford University Press!

Di India, penerbit kelas UK ini berhamburan di mana-mana, dan harganya murah meriah! Mereka tidak memprioritaskan kualitas kertasnya yang mahal. Yang penting pesan tersampaikan. Bisa dibaca dan diserap isinya!

Makanya, saat berkunjung ke Hyderabad, Ibu Kota Andra Pradesh, saya juga membawa sekitar 10 kg buku lagi. Buku-buku yang saya cari meliputi buku nursing, Inggris dan umum seperti motivasi, agama, sejarah dan beberapa jokes. Membawa 20 kg buku dari India, rasanya masih kurang, lantaran sulit mendapatkannya di Tanah Air.

Banyak orang luar yang belajar di universitas-universitas India, tidak terkecuali Osmania University di Hyderabad (negara bagian Andra Pradesh) serta Manipal (negara bagian Karnataka) yang sempat saya tengok kampusnya. Sesekali saya melihat mahasiswa Arab dan Malaysia (?) berkeliaran di kampus Manipal.

Saat menemui sebuah keluarga di Goa (salah satu negara bagian terkecil, sekitar 45 jam terbang dari Mumbai ke arah selatan), saya sempat ngobrol dengan dua orang anak teman saya yang sedang belajar di bangku setingkat SMU kelas 3. Sekolahnya gratis!

Para siswa, kata Muzamil, salah satu dari dua anak muda tersebut, juga diberi laptop. Kok bisa ya? Dari mana duitnya? Sementara jutaan orang miskin sangat butuh uluran tangan. Sekedar tahu, di India, pekerja untuk kategori anak-anak ini, menduduki peringkat pertama terbesar di dunia menurut UNICEF.

Pemerintah India, memiliki perhatian yang luar biasa besarnya terhadap pentingnya pendidikan.

Makanya, tidak kaget ketika kita dengar Bill Gates banyak merekrut tenaga IT nya dari Hyderabad. Tenaga kerja IT, guru, nurses, saat ini memperoleh perhatian finansial yang besar dari pemerintah. Gajinya bisa mencapai Rp 6 juta untuk lulusan S1 bagi pegawai negerinya. Sarjana IT bahkan jauh lebih tinggi. Rekan saya bilang, keponakannya yang sudah berada di Amerika Serikat, balik ke India karena mendapatkan tawaran yang bagus di negeri asalnya.

Di Kerala, saat mampir ke sebuah rumah bagus milik seorang rekan, di bagian belakang rumah, saya ditunjukkan sebuah sarang burung Gelatik. Yang saya heran, burung ini kok berani-beraninya bikin sarang di tempat terbuka di dalam rumah!

Di tengah perjalanan dari Mangalore ke Karkala (negara bagian Karnataka), saya sempat melihat seekor burung Merak sedang hinggap disebuah pohon, dengan mata kepala sendiri, bukan di tengah hutan belantara Papua! Saya juga melihat sapi liar semacam Bison di sana. Binatang-binatang ini sangat dilindungi pemerintah. Di samping, rakyatnya memang patuh, tidak serakah menembaki habis satwa langka!

Yang saya tidak suka di sana adalah, ke mana pun pergi, yang namanya anjing banyak sekali. Bikin jalan-jalan kotor. Juga sapi. Maklum, mereka yang sebagian besar beragama Hindu memang mendewakan sapi, sebagai binatang suci yang tidak boleh diganggu.

Heran saya, sapi-sapi ini kok nggak lenyap ya? Soalnya, sapi yang berkeliaran di negeri kita, pasti hilang dalam hitungan menit, jika tanpa diikat oleh sang empunya, bakal lenyap!

Saya menyempatkan melihat dari dekat pelayanan kesehatan. Sengaja saya ingin tahu biaya pengobatan dan perawatan di sana. Saya kagum dengan banyaknya jumlah RS Mata di kota Chennai juga Mangalore. Dua kota yang kelasnya sama dengan Surabaya. Yang saya tahu, RS Mata di Surabaya hanya ada satu buah, dan dua buah klinik mata.

Di sana, biaya konsultasinya murah sekali. Tidak lebih dari Rp 25 ribu. Mana ada di negeri ini di RS swasta untuk periksa mata hanya membayar sejumlah itu di tangan super spesialis?

Beberapa pelayanan yang ada juga ditawarkan termasuk yang gratis bagi penyandang tuna netra. Anak teman saya, sempat mendapatkan pelayanan gratis seharga sekitar Rp 300 ribu. Petugas dan pasien-pasiennya, saya melihatnya amat tertib dan sangat menghargai arti sebuah antrian. Mungkin tidak semuanya. Minimal itulah yang terlihat di depan mata ini. Layanan kesehatan di India, tidak mata duitan!

Alamnya indah dan tidak banyak polusi di sungai-sungai yang puluhan jumlahnya sempat saya lalui dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya, khususnya di Goa, Karnataka dan Kerala. Ini membuktikan bahwa pembuangan limbah industri menjadi kepedulian yang besar di sana. Saya bandingkan dengan di kota-kota menengah dan besar di negeri kita, betapa sangat mengganggu yang namanya limbah ini. Apalagi plastik.

Di sejumlah stasiun kereta api (beberapa kali saya naik kereta), tertulis di mana-mana: ‘Reduce the use of plastic’. Makanya, saya maklum ketika belanja ke berbagai tempat, tidak dikasih tas plastik! Kampanye mereka bukan hanya slogan. Kepeduliannya banyak diimplementasikan dari skala yang terkecil seperti di toko-toko. Bahkan rumah.

Saat di Karkala, saya bertanya kepada istri teman saya, ke mana mereka membuang sampah. Katanya, dibakar setiap hari di dapur belakang sekaligus untuk bahan bakar menghangatkan air. Di sana, memiliki sumber air dingin dan panas adalah hal biasa. Khususnya jika musim dingin, air panas sangat dibutuhkan.

Kalau mau ke India sendirian memang berat. Kecuali mengambil package tour. Yang nyaman apabila ada teman yang bersedia membantu serta menemani ke sana-ke mari. Tawar menawar soal biasa, kecuali di toko-toko besar sebagai mana di negeri kita. Saya melihat dalam banyak kesempatan mereka jujur dan tidak menipu pembeli. Apalagi jika membeli barang-barang seperti obat dan buku yang sudah ada bandrolnya.

Sebenarnya, kalau masalah harga, mulai makanan hingga elektronika, terserah kita yang memilih. Yang murah tersedia, yang mahal pun ada. India sepertinya tidak beda.

Yang membedakan dan kita tidak harus lupa adalah, bahwa India memiliki sejarah sosial budaya yang jauh lebih tua ketimbang Indonesia. Kita perlu banyak belajar dari India, jika ingin tahu sejarah kita.

Yang saya kurang suka dengan India seperti ketatnya keamanan, polisi di mana-mana, kebersihan yang kurang terpelihara di public places, minuman keras dijual kayak warung pecel dan sulitnya cari masjid (maklum negara mayoritas Hindu). Namun, banyak hal yang saya sangat salut dibuatnya, selain yang saya sebutkan dalam uraian di atas.

Orang-orangnya sangat ramah terhadap tamu asing, rokok kurang populer dan tidak menjumpai balihonya, saya tidak pernah merasa ditipu, harga barang-barang jelas, orang-orangnya sangat pemberani utamanya bila mereka benar. Tidak peduli kepada polisi, pejabat atau penguasa pemerintah.

Satu lagi, orang India adalah pekerja keras!

Meski secara fisik terkesan banyak yang miskin, kita tidak bisa menutup mata, India adalah salah satu raksasa dunia yang manusianya sudah merambah ke mana-mana. Dari bawah tanah hingga bulan. Dari Gandhi hingga Manmohan Singh. Dari Salman Khan hingga Punjabi. Dari Sari hingga BBC. Dari koki hingga perdana menteri yang migrasi ke negara lain, asli India. Semuanya bisa bikin kita geleng-geleng kepala!

Kesimpulannya adalah: India, sebuah negara 1,2 milyar manusia dengan berjuta konfliknya, bukan sebuah negara yang mengedepankan penampilan semu atau kamuflase. Sebaliknya, India adalah sebuah negara adidaya dengan segenap kelebihan dan keterbatasannya, berupaya memanusiakan manusia dan menghargai hak-haknya.

Jika anda ingin sekolah lagi, studi banding, belanja, tour, bisnis partner, cari buku, teknologi informasi, belajar agama, bisnis perfilman, teknologi nuklir atau apapun yang anda sebut, jangan berpikir dua-tiga kali. Tidak perlu jauh-jauh ke Amerika, Canada, Inggris, Jerman, Jepang atau Australia yang mahal harganya! Langkahkan kaki dan jelajah India, negara besar anak benua di Asia Selatan ini. Kalau orang India bisa diakui dunia, saya yakin, lulusan perguruan tinggi India akan mendapatkan pelakuan yang sama! Karenanya, saya pernah belajar darinya, beberapa tahun silam.

Bagaimanapun juga, India, bisa bikin orang-orang Indonesia biasa saja, hina, mulia, tertawa hingga sakit jiwa, bergantung kepada bagaimana persepsi kita terhadapnya!

India memang beda! Dan Indonesia, ternyata artinya, berasal dari sana!

Tidak percaya? Bukalah ensiklopedia!

Categories: Uncategorized
  1. ridho banjarmasin
    May 30, 2013 at 12:49 am

    Salam,saya adalah salah satu santri di pondok salaf di jateng,saya ingin sekali belajar di lacknow city lebih tepatnya di nudwatululama univercity,disana banyak kabar yang saya terima bahwa di sana pendidikan semuanya gratis,dan sangat bagus dalam perogram,tapi saya tidak dapatkan visa untuk belajar karena negara india kebanyakan hindu dan dubesnya juga hindu sedangkan univercitas yang saya tuju adalah islam,bagaimana cara saya ke india dan bisakah anda bantu saya dalam kontak ppi indianya,dan yang biasa menjemput mahasiswa indonesia di bandara india ? +6287746265689,29dad28e,eydho_elfatra@yahoo.co.id salam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: